Biutifa.com
Informasi Lifestyle Muslimah Syar'i & Stylish

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Yuk sahabat, kita lanjutkan pembahasan mengenai hijab yang dianjurkan dalam Islam. Postingan ini merupakan lanjutan dari postingan sebelumnya ya.

  1. Harus Longgar, dan Tidak Ketat

Mengenakan hijab selain kain yang tebal dan tidak tipis, pakaian pun harus longgar sehingga tidak memperlihatkan bentuk tubuh muslimah. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits dari Usamah bin Zaid ketika ia diberikan baju Qubthiyah yang tebal oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia memberikan baju tersebut kepada istrinya. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahuinya, beliau bersabda,

“Perintahkanlah ia agar mengenakan baju dalam di balik Qubthiyah itu, karena saya khawatir baju itu masih bisa menggambarkan bentuk tubuh.” (HR. Ad Dhiya’ Al Maqdisi, Ahmad dan Baihaqi dengan sanad hasan)

Tidak cukup hanya memakai rok saja, yang ternyata terlihat bentuk pinggul dan kaki atau betisnya. Dan tidak cukup menggunakan kaos kaki panjang, karena tidak cukup menutupi bentuk kaki terutama yang naik motor sehingga terlihat betisnya. Perlu diketahui memang fleksibel memakai celana namun rok pun juga bisa menjadi fleksibel (jangan dibandingkan dengan rok ketat/span). Jadi lebih benar dengan syari’at yang telah Allah dan Rasulullah tetapkan.

  1. Tidak Diberi Wewangian atau Parfum

Berikut hadist mengenai wanita yang keluar dari rumah memakai wangi-wangian.

“Siapapun perempuan yang memakai wewangian, lalu ia melewati kaum laki-laki agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah pezina.” (HR. Tirmidzi)

Maka hendaknya kita lebih berhati-hati lagi dalam menggunakan segala jenis bahan yang dapat menimbulkan wewangian pada pakaian yang kita kenakan keluar, semisal produk-produk pelicin pakaian yang disemprotkan untuk menghaluskan dan mewangikan pakaian (bahkan pada kenyataannya, bau wangi produk-produk tersebut sangat menyengat dan mudah tercium ketika terbawa angin). Lain halnya dengan produk yang memang secara tidak langsung dan tidak bisa dihindari membuat pakaian menjadi wangi semisal deterjen yang digunakan ketika mencuci.

  1. Tidak Menyerupai Laki-Laki

Terdapat hadits-hadits yang menunjukkan larangan seorang wanita menyerupai laki-laki atau sebaliknya (tidak terbatas pada pakaian saja). Salah satu hadits yang melarang penyerupaan dalam masalah pakaian adalah hadits dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, ia berkata

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pria yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian pria.” (HR. Abu Dawud)

Dengan menyerupai pakaian laki-laki, maka seorang wanita akan terpengaruh dengan perangai atau sikap laki-laki dimana ia akan menampakkan badannya dan menghilangkan rasa malu yang disyari’atkan bagi wanita. Bahkan yang berdampak parah jika sampai membawa kepada maksiat lain, yaitu terbawa sifat kelaki-lakian, sehingga pada akhirnya menyukai sesama wanita. Wal’iyyadzubillah.

  1. Tidak Menyerupai Pakaian Wanita-Wanita Kafir

Betapa kita ketahui, mereka (orang kafir) suka menampakkan bentuk dan lekuk tubuh, memakai pakaian yang transparan, tidak peduli dengan penyerupaan pakaian wanita dengan pria. Bahkan terkadang mereka mendesain pakaian untuk wanita maskulin! Hanya kepada Allah-lah kita memohon perlindungan dan meminta pertolongan untuk dijauhkan dari kecintaan kepada orang-orang kafir. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Hadid [57]: 16)

Naudzubillah, jangan sampai kita berada atau bahkan mengikuti cara berpakaian wanita-wanita kafir walaupun orang itu terdekat kita.

  1. Bukan Pakaian Untuk Mencari Popularitas

“Barangsiapa mengenakan pakaian syuhrah (untuk mencari popularitas) di dunia, niscaya Allah mengenakan pakaian kehinaan pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api naar.”

Adapun libas syuhrah (pakaian untuk mencari popularitas) adalah setiap pakaian yang dipakai dengan tujuan meraih popularitas di tengah-tengah orang banyak, baik pakaian tersebut mahal, yang dipakai seseorang untuk berbangga dengan dunia dan perhiasannya, maupun pakaian yang bernilai rendah yang dipakai seseorang untuk menampakkan kezuhudan bisa saja berubah menjadi tujuan riya.

Namun bukan berarti di sini seseorang tidak boleh memakai pakaian yang baik, atau bernilai mahal. Karena pengharaman di sini sebagaimana dikatakan oleh Imam Asy Syaukani adalah berkaitan dengan keinginan meraih popularitas. Jadi, yang dipakai sebagai patokan adalah tujuan memakainya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala suka jika hambanya menampakkan kenikmatan yang telah Allah berikan padanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah menyukai jika melihat bekas kenikmatan yang diberikan oleh-Nya ada pada seorang hamba.” (HR. Tirmidzi)

Penutup

Demikian sedikit penjelasan tentang hijab yang baik dan benar sesuai dengan syari’at agama. Saudariku… janganlah kita terperdaya dengan segala aktifitas dan perkataan orang yang menjadikan seseorang cenderung merasa tidak mungkin untuk menggunakan jilbab yang sesuai syari’at. Ingatlah, bahwa sesungguhnya tidak ada teman di hari akhir yang mau menanggung dosa yang kita lakukan. Hanya kepada Allah lah kita memohon pertolongan ketika menjalankan segala ibadah yang telah disyari’atkan. Semoga membantu muslimah sekalian. Wallahu a’lam.

Keep istiqomah!

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Rara Ibyansyah

Leave a Reply